Welcome..!!!

Welcome To Gitche Yanti Malayani's Blog - Don't Forget to Comment And Share

Thursday, March 29, 2018

Eben Haezer Silaen

Aku sedang menyukai seseorang. Akupun tak mengerti apa yang membuatku menyukainya. Sikapnya yang dingin ketika pertama kali aku menemuinya mungkin. Aku tak mungkin lupa tentang kali pertama aku bertemu dengannya.

Di lift lantai 1 menuju kelantai 4. Awal aku melihatnya dan muncul pertanyaan : "Siapa dia?". Seperti ada sesuatu yang menarik darinya. Dan aku tak butuh banyak alasan untuk menyukai seseorang. Ketika hatiku berkata aku suka, maka aku akan menyukainya. Tapi aku tak berharap banyak untuk lebih jauh, karna bisa saja itu pertemuan pertama dan terakhir kami. Jadi aku melupakannya. 

Namun takdir berkata lain. Itu bukan menjadi akhir, namun awal dari cerita ini. Sekitar 1 jam kemudian aku sadar bahwa ternyata kami menuju tempat yang sama. Kami punya acara yang sama. Kami berada di ruangan yang sama. Dalam sekejap aku berusaha menemukan namanya tapi tidak semudah itu. Tak kudapati namanya disana, entah karna terlalu banyak nama tapi intinya aku tidak menemukannya. Aku tersenyum tiap kali melihatnya. Berharap dia sadar akan kehadiranku. Hanya saja dia tidak sepeka diriku. Mungkin untuk ingat bahwa kami bertemu di lift saja, rasanya tidak mungkin. Hanya bisa berdoa. 

Sepanjang acara dia duduk di area kiriku. Ya, aku pasti tau. Karna aku memperhatikannya. Jika kau berkata aku berlebihan, tapi inlah diriku ketika menyukai seseorang. Aku sedikit bisa merasakan kehadirannya. Hingga sang pembawa acara menanyakan namanya dan aku pun tau. Iya, namanya Eben. Aku menemukan namanya di kertas absen - Eben Silaen. Aku berterimakasih kepada pembawa acara yang telah memberitahukan nama pria yang sedang ku perhatikan itu. 

Lima hari acara ini berlangsung membuatku sedikit sibuk memikirkan hal lain selain dirinya. Hingga hari terakhir aku benar-benar merasakan bahwa aku menyukainya. Berharap tau nomor hapenya secara langsung tapi aku gagal. Tidak, bukan berarti aku tak tau nomornya, tapi aku ingin menerima langsung dari dirinya. Aku tau, hanya bukan dari dirinya. Kami tergabung dalam group whatsapp. Jadi aku pasti tau. 

Aku menyukainya tapi itu bukan hal yang mudah. Seminggu aku berusaha melupakannya, tapi tetap saja rasa suka itu ada. Aku berpikir untuk melupakan rasa ini karna aku yakin itu tak mungkin terbalas. Iya, aku yakin itu mustahil. Tapi aku mau berusaha. 

Aku menghubunginya denga perasaan gentar, seperti seorang tentara yang sedang maju berperang dan tau dia akan gagal. Penuh rasa takut dan waswas. Temanku berkata : "jangan kalah sebelum berperang". Namun entahlah, aku sudah merasa kalah meski masih berusaha. Responnya memang seperti ekspektasiku, dan tidak seindah mimpi ku. Mimpiku terlalu mengada-ada. Tapi hatiku cukup senang ketika dia merespon dengan baik. Hanya saja aku tak berani memberitahukan namaku. Yah, tidak berani. Sangat amat tidak berani. Aku tau dia pasti mengenaliku, sayangnya aku tak tau apa kesan pertamanya padaku. Aku takut itu bukan kesan yang baik. Maka itulah alasan mengapa aku takut. 

Aku ingin membangun ulang kesan pertamanya padaku. Dan aku gagal! Beberapa hari kami hanya mengobrol singkat. Dia hanya menjawab apa yang aku tanya. Sakit! Tapi aku masih mau berusaha. Hingga kemudian tersebar berita bahwa dia sudah tau nama orang yang menghubungi nya (baca : namaku), dan itu makin membuatku gelisah. Benar saja, dia menyudahi semuanya. Semakin sakit! Rasanya usahaku gagal. Tak ada satupun yang bisa aku bangun dengan baik. Aku bisa apa? Tak ada! 

Dan hingga suatu kali kami bersama disebuah ruangan yang akhirnya kusadari hal itu. Yang aku sesalkan adalah momen itu tak bisa ku buat untuk membangun ulang kesannya tentangku. Aku, yang merasa kalah dan gagal, tak mengerti harus berbuat apa. Aku bahkan tak tau harus mengajaknya mengobrol atau tidak. Atau apa aku harus menyapanya. Pikiranku kalut! Aku tak pernah merasa segelisah itu. Aku seperti diawasi banyak mata. Takut kembali menyelimutiku.

Iyah, aku pengecut! 

Pengecut yang hanya mampu memandang dari jauh, menyukai dari tempat dimana dia tidak menyadariku. Aku pecundang yang tak bisa berjuang demi sesuatu yang sangat aku inginkan. Aku terlalu lemah hingga aku kalah sebelum berperang. Perasan itu masih sampai saat ini, namun entah dia akan mengerti itu atau tidak, aku tak tau. Aku hanya ingin tau apa yang dia pikirkan tentangku. Tidak, aku tak hanya ingin itu. Akupun ingin dia menyukai ku. Meski aku tahu itu mustahil. 

Jika Tuhan mengizinkanku, aku ingin menyampaikan ini langsung dihadapannya. Mengatakan bahwa aku masih menyukainya. 

Dia Eben Haezer Silaen.

2 comments:

  1. kak aku suka deh cara kk bercerita, bikin part 2 nya doooong

    ReplyDelete
  2. Balas dong che..
    Ada part II nya gak nih?
    Btw sukses selalu ya buat mu dan blognya

    ReplyDelete

Leave your comment here..^^