Welcome..!!!

Welcome To Gitche Yanti Malayani's Blog - Don't Forget to Comment And Share

Wednesday, September 30, 2015

Bukan Untukku, tapi Untuk Bangsamu

sekilas wajah mereka terpampang dalam anganku
tentang kisah yang dahulu di elu
tentang wajah sendu menantang benalu
tentang asa terbakar penuh haru
demi esok yang baru
 
waktu membawaku berlayar
ke masa saat ilmu tak mampu terbayar
ketika si miskin tak layak untuk pintar
ketika jendela dunia hanya untuk mereka saudagar
ke masa dimana wanita hanya mampu bersandar
pada dinding tempat abu bakar
 
bukankah kita berhutang?
berhutang pada mereka yang dulu berjuang
berperang dengan tangan sebagai tameng
melawan dengan otak yang cemerlang
menaikkan harkat dan derajat
agar kita tak terikat oleh jerat
jerat dari otak yang berkarat
para penjajah-penjajah jahat
 
namun lihatlah kalian kini
tak ada niat membalas budi
sebuah harga yang kalian injak mati
dengan menghamburkan ilmu ke kali
bukan ke dalam hati
 
jika bibir mereka mampu bersuara
jika mata mereka dapat terbuka
dan melihat kalian para siswa
tak pernah hargai tiap usaha mereka
yang tercipta dengan tiap titik air mata
juga dengan tetesan darah yang tersisa
bukankah pedih yang mereka rasa
melihat bangsa yang tak lagi berharga
untuk diperjuangkan dengan asa

bangkitlah dan berubahlah
bukan untukku tapi untuk bangsamu
balas tiap air mata yang tumpah
dengan prestasi yang tertoreh
dengan semangat membangun bangsa
dengan tetesan darah yang masih ada
agar tiap usaha menjadi bermakna

Jakarta, 30 September 2015

Thursday, September 24, 2015

Sahabat, Kata Mereka

Sahabat..
Itu kata mereka
tapi apa memang kita begitu?
yang ku tau kita tak lagi sejiwa
kita tak juga satu tuju

kukira aku berharga dimatamu
nyatanya semua hanya ilusi
ketika aku beri percayaku
namun kau hempas aku bersama caci
tanpa hiraukan bibir yang kini kelu
bersama perih dalam hati

menyesal..??
bukan.. aku tak menyesal teman
kasih ini butakan ego dalam nadi
hingga kecewa tak mampu terluapkan
meski sakit yang semakin kuasai

sempat terpikir bahagia ini sampai mati
nyatanya hanya sebatas cerita dalam mimpi
aku tak ingin pergi
tapi dia larikan kau dari sisi
kini angin temani dalam sepi

Sahabat...
Itu kata mereka
dan biar langit yang tau
aku tak ingin bersuara
biar dinding yang berseru
ceritakan tentang kita
serta pemisah kau dan aku


Jakarta, 23 September 2015

Wednesday, September 23, 2015

Untitled

Yang terjadi biarlah terjadi,
Tak perlu ada keluh dalam hati
Biarkan angin yang bawa mereka pergi
Biarkan bintang menari
Tepiskan kelabu di langit malam ini
Kembalikan pelangi
Dan tepis setiap hujan yang mengiringi
Kemudian nadi kembali sunyi
Dan senyum pun menyaingi
Jiwa yang damai kini..

Jakarta, 23 September 2015

Rindu Sebatas Pulsa

Aku di sini dan kau di sana;
Hanya berjumpa via suara;
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa..


LDR? Apa itu LDR? LDR adalah singkatan dari Long Distance Relationship, ini adalah hubungan jarak jauh. Yang artinya juga berarti dua orang yang saling berhubungan namun terpisah oleh jarak yang tak dapat ditempuh dalam waktu singkat. Yap, itu adalah hal yang gw rasain sekarang. Berhubungan sama seorang cowo tanpa bisa ketemu setiap hari. Susah? Sangat!! Kadang hal yang bikin kesel adalah ketika waktu kami gak sama. Waktu senggang kami beda, dan alhasil menumpuk rindu sampai waktu meluapkannya tiba. Kapan? Gak ada yang tau!

Terus gimana bisa bertahan? Di jaman sekarang gak ada yang gak canggih. Kalo jaman dulu cuma bisa liat tulisan dan itupun benar-benar harus menumpuk rindu sekian karung. Sekarang tinggal buka HP kirim pesan singkat, atau telepon atau bisa juga sama yang namanya Video Call. Karna jaman sudah terlalu canggih, makanya semua serba bisa. Jarak pun tak pernah jadi masalah. Bahkan untuk mereka yang terpisahkan pulau atau negara dan tak terkecuali benua, semua itu tak akan menghalangi kisah kasih mereka yang berjauhan.

Hanya aja ada satu masalah, semua memang sudah canggih. Ponselpun sudah sangat pintar, tapi menurut gw Smartphone  ini tidak akan bisa benar-benar berfungsi kalau gak ada PULSAnya. Karna yang mengatur itu pulsa, cost yang kita gunakan disini sebagai pengganti ongkos pertemuan. Tapi kan pulsa ini jauh lebih murah dibandingkan dengan ongkos. Nah jadi kebutuhan orang-orang yang LDR-an adalah PULSA MURAH. Dimana selayaknya prinsip ekonomi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan biaya yang sekecil-kecilnya.

Pengalaman gw adalah ketika pulsa gak ada, rindu ini benar-benar mengganggu karna gak ada yang bisa ngobatin kecuali suara dia yang jauh disana. Dan yang lebih parahnya adalah pulsa gak ada, uang di tangan sekarat dan gak ada pertolongan yang bisa diandalkan. Berusaha sampai malam mencari cara supaya pulsa ini terisi. Ngecek mobile banking berkali-kali, padahal mah isinya juga gak bakal nambah. Cuma bisa berharap pada PULSA MURAH JAKARTA yang mungkin aja gak ada. Karna semua di Jakarta serba mahal. Dalam keadaan sekarat gini, yang biasanya masih terjangkau yah nyari temen yang jual PULSA ELEKTRIK. Kenapa temen, karna cuma ke dia yang bisa TU dulu alias ngutang.

Mulailah otak berpikir siapa yang jual PULSA ELEKTRIK JAKARTA yang murah. Sampai akhirnya ilham itu datang dan muncullah satu nama dan langsung aja minta di isiin pulsa. Gak lupa dengan nada rada melas (memohon belas kasihan) supaya diizinin bayarnya nantian aja habis rejeki datang. Dan sebelum tengah malam pulsa sudah sampai.

Dan akhirnya pulsa terisi, dompet terselamatkan dan rindu terluapkan. Gak ada yang dirugikan kok disini. Tapi rasanya LDR-an gak pake pulsa itu kaya udah gak ketemu bertahun-tahun atau terjebak di hutan pedalaman sendirian. Dan pasti pengen nangis berhari-hari *lebay sih ini*.

Eh, siapa sih yang punya ide bikin pulsa dan sejenisnya ini? Pengen deh ketemu orangnya trus bilang makasih banget untuk bikin jarak tiada berarti, dan rindu selalu terobati. Pengen bilang juga kalo bukan karna dia mungkin gw gak akan pernah memilih untuk LDR-an.

Jadi rinduku hanya sebatas pulsa. Rindu ini bakal selalu terobati dengan adanya pulsa murah yang ditawarkan sama para penjual pulsa. Rindu sebatas Pulsa.

Monday, September 21, 2015

Untuk Priaku yang Terpisah Jarak dan Sedang Berjuang dengan Skripsinya

Berjuang bukanlah menjadi hal yang mudah untuk di lakukan. Akan terjadi masa dimana ketika berjuang terasa melelahkan dan ingin berhenti. Namun ketika ingin berhenti, bukankah seharusnya kita mengingat apa yang menjadi alasan kita untuk memulai berjuang. Hingga ketika kau terjatuh, alasan ini akan selalu menjadi motivasimu untuk bangkit.


Perjuangan yang kau lakukan ini untuk dirimu di depan nanti sayang.

Bukankah lulus adalah impian dan angan pertamamu? Bukankah membangun masa depan adalah hal yang telah kau rencakan setiap harinya ketika mengawali tingkat pertama perkuliahanmu? Membayangkan kau akan menjadi hebat dan mampu melakukan semua yang kau ingin dengan jerih payahmu sendiri? Bukan lagi menjadi orang yang bergantung pada kedua orang tuamu? Perjuanganmu yang hanya tinggal selangkah harusnya mengingatkanmu tentang semua itu.


Perjuangan ini pun kau lakukan untuk orang tuamu.

Bahagiamu adalah memandang senyum bangga dari mereka yang membesarkan mu. Namun ketika lelahmu lebih menguasai daripada asamu, mungkin kau tak akan pernah melihat senyum dari wajah mereka. Dan penyesalan terbesarmu akan menghantui mu selalu atas senyum yang tak sempat kau lihat.

Selangkah yang menyiksa tapi takkan kau sesali

Tugas akhir mungkin terasa memuakkan. Tapi percayalah ini akan menjadi memori terindahmu. Hal yang tak akan pernah kau sesali. Hal yang akan menjadi perlajaranmu seumur hidup. Belajar menjadi sabar, dan tak akan menyerah. Belajar untuk menghargai waktu, dan betapa mahalnya harga sebuah perjuangan. Bertemanlah dengan skripsi ini, maka semua nya akan terlihat mudah. Yakinlah pada dirimu sendiri, maka kejenuhan tak akan memanjakanmu.

Berjuanglah untuk menghapus jarak yang memisahkan kita

Jika kau menyerah disini, mungkin jarak antara kita takkan pernah terhapus. Kita akan selalu terpisah dan aku hanya akan mampu mendengar suaramu dan membayangkan mu dari jauh. Bukankah kau ingin selalu melihatku tanpa jarak? Maka berjuanglah priaku, agar jarak ini semakin menipis.


Berjuanglah demi penantianku yang masih ku pertahankan

Aku disini menantimu. Akankah kau menyia-nyiakan perjuanganku untuk menunggumu disini? Pepatah mengatakan, berjuanglah dengan dia yang mau berjuang bersamamu. Jadi tegakah dirimu membiarkan ku berjuang sendiri untuk kita? Aku disini selalu mendukungmu, mendoakanmu, menyemangatimu dan selalu ada untukmu. Meski aku tak dapat selalu hadir di hadapanmu. Tapi aku mohon, berjuanglah menyelesaikan tugas akhirmu di perkuliahanmu, dan aku juga akan berjuang untuk kita disini. Berjuanglah untuk aku, kamu dan kita.


Apa yang kau lakukan sekarang semata-mata bukan tak ada ujungnya. Bukan pula tak ada gunanya. Semua yang telah kau capai sekarang adalah bukti dimana kau pun harus mengakhiri semua apa yang telah kau mulai, dengan hasil yang kau impikan dari awal. Ingatlah mimpi ketika kau menginjakkan kaki pertama kali di tempat perkuliahanmu itu. Hingga kau tak ingin menyerah disini. Ingatlah tujuanmu di depan sana, agar kau takkan berhenti di tengah jalan. Ingatlah aku disini, agar kau takkan berhenti disini dan kemudian menyelesaikan semuanya.


Selamat Malam Pangeran Matahari

Kilaumu tampak berbeda
Tak serupa kala awal kita jumpa
Saat aku mengenalmu pertama

Sejenak lupakan gundah yang merana
Tiap aku dan kau bersama
Tiap kali kita berdua

Hangatmu berikan senyum merona
Butiran cahaya yang pancarkan cinta
Juga warna yang bangkitkan asa

Coba pejamkan mata
Rasakan kau dalam gulita
Kicau indah berbalasan mesra
Bersenandung dalam gendang telinga
Iringi langkah yang beranjak keperaduan jiwa

Harum kehijauan amat terasa
Hidupkan suasana yang ada
Berharap kau tak akan kemana
Temani hati yang sedang berkelana

Kau memang berbeda
Karna akupun tak sama
Drama cinta dan hidup yang berkuasa
Layukan asa dalam jiwa
Namun kau beri aku tawa
Dalam tiap titik cahaya
Kau beri aku cinta
Di tiap pelukan hangat menyapa

Terimakasih untuk masih disana
Untuk selalu indah dan berwarna
Untuk hangat dan tawa serta cinta
Juga asa yang tak pernah terlupa

Selamat malam pangeran Matahari
Aku masih akan disini
Menanti kau akan kembali
Beri aku kedamaian hati...

Jakarta, 20 September 2015

Tuesday, September 1, 2015

Keluh Kesah Kalbu

Apa aku harus memutar waktu kembali ke masa lalu, agar kau sudi memandangku?
Apa aku harus hilang ingatan agar kisahku tak lagi kau pedulikan?
Apa aku harus mengubur jauh perasaanku agar curigamu tak mengusikku?
Apa tangisan pedihku perlu ku perdengarkan agar kau dapat hiraukan mereka?
Atau perlukah aku hapus sejarah agar senyummu tersirat untukku?

Sekotor itukah aku di depanmu, hingga aku tak layak di pandang matamu?
Sehina apa aku, hingga bahagiaku kau pertanyakan?

Layakkah aku tertawa di benakmu?

Sejenak ingin aku tinggalkan semua keluh ini dalam kalbu dan tenggelamkan semua dalam palung jiwa..
Hanya saja itu terlalu dangkal hingga kau mampu temukan semua yang ingin aku sembunyikan.

Lalu aku harus apa?
Mengapa tak kau izinkan aku bahagia?
Mengapa tak kau relakan aku tertawa?

Mungkin lebih baik aku berlalu..
Berlalu dan lupakan saat dulu..

Mungkin aku harus menghilang
Agar tak lagi kisahku berkumandang..

Bukan lebih baik bila aku menepi, daripada membela diri?

Biar saja tak kurasakan bahagiaku di sini, asalkan kau tak lagi bicarakan perih hati ini..

Aku pergi, bukan tak berani membela diri, hanya mungkin aku terlalu perih dan tersakiti kali ini..