Welcome..!!!

Welcome To Gitche Yanti Malayani's Blog - Don't Forget to Comment And Share

Sunday, December 13, 2015

Teman Hidup

Kepada : Priaku, Zakhary Sabbathin Pandiangan

Hai sayang.. Jangan kaget bila ini semua di luar rencanamu. Aku, hanya ingin bercerita tentang kita. Mengenang saat-saat dimana mata kita saling memandang untuk pertama kali. Saat dimana hatiku berdebar-debar ketika di sampingmu. Masih ingat? Saat ketika aku akan terjatuh, dan kaulah orang yang menarikku? Saat dimana aku kebingungan akan jalan pulangku, dan kau menawarkan bantuan untuk mengantarku? Pernahkah kau sadari bahwa akulah yang memulai kisah kita terlebih dahulu? Iya, awalnya aku yang ingin berada di dekatmu. Aku ingin mengobati luka lamaku bersamamu. Dan ternyata alam pun mendukung. Alam membantuku untuk mendekatimu. Sadarkah kau bahwa dunia ada di pihak kita?

Kisah kita berjalan seperti yang aku inginkan. Kau mengajakku berkenalan dalam sebuah hubungan yang lebih dekat. Tapi entah mengapa, tiba-tiba saja hatiku ragu tentang keputusanku menerimamu atau mungkin keputusanku memilihmu. Namun hati kecilku menyuruhku menjalani sepenuh hati. Dan aku menurut! Semua berjalan baik-baik saja hingga Ayah pergi meninggalkan aku. Hatiku teriris! Aku merasa hancur dan hampa. Aku bukan lagi aku yang dulu. Keegoisan membutakan aku tentangmu. Tentang hidupku, tentang semua hal. Itu adalah saat terburuk ku, namun itu belum puncaknya! Hingga ketika kau memilih untuk menjauh dari ku.

Barulah ku sadari betapa aku telah jauh dari semua yang aku harap. Baru aku mengerti apa yang kau rasakan selama ini. Baru aku menyadari betapa berartinya dirimu dalam hidupku. Betapa aku membutuhkan mu dalam hidupku. Dan betapa bodohnya aku menaruh ego dalam hubungan kita. Dan betapa sakit nya kehilangan untuk yang kedua kali. Aku berharap kau juga rasakah apa yang aku rasakan saat itu. Tapi tampaknya kau baik-baik saja. Tapi memang semua salahku, dan aku pula lah yang harus menerima sakitnya.

Waktu tak pernah berjalan mundur, dia tak pernah memberiku kesempatan mengulang semuanya. Waktu terus maju dan hanya memberiku dua pilihan antara hidup dalam sesal dan tak pernah bangkit atau berjuang untuk gapai kebahagianku. Kemudian aku memilih untuk berjuang mendapatkan kebahagiaan ku kembali yaitu dirimu. Kau pasti masih ingat bagaimana aku bertahan demi dirimu. Berjuang demi hatimu, menangis karna wajahmu tak berpaling sedikitpun untukku. Tersiksa hati karna senyummu tak lagi mampu aku miliki.

Tapi yang ku ingat adalah ketika alam dan dunia membantuku saat pertama kali, maka kali ini pun mereka akan mendekatkan aku dengan mu. Memang benar kata pepatah, “..ketika dua orang di takdirkan untuk bersatu, maka tak akan ada yang menghalangi mereka kembali bersama..”

Doa dan perjuanganku di dengar oleh Tuhan, hingga hari ini kita dipersatukan di hadapan surga, keluarga, dan mereka semua. Ini adalah hari yang selalu aku impikan dalam tidurku. Ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Mulai saat ini, tetaplah bersamaku jadi teman hidupku untuk arungi dunia, bersama hingga akhirnya maut memisahkan kita.

Tertanda,

Wanitamu, Laura Engelia Bangun


Sunday, November 8, 2015

Aku Bukan Dia

Aku bukan dia yang kau harapkan
Dia yang mampu tepis laramu
Dia yang bisa hapuskan sedihmu

Aku tak seperti dia yang kau impikan
Aku rapuh namun seolah tegar
Aku lemah tapi bersikap layaknya kuat

Aku menipu hatiku
Bila paksakan dia adalah aku
Aku siksa jiwa dan raga
Saat tersenyum seperti dia

Izinkan aku pergi
Karna yang kau cari bukan aku
Relakan aku hilang
Karna yang kau butuh adalah dia

Bila memang kita akan bersama
Maka hatimu akan menemukanku
Jika cinta adalah milik kita
Maka kita akan bersama

Tapi biarkan aku dan lepaskan aku
Untuk kau dapat yakinkan hatimu...

Thursday, October 15, 2015

Ini Cerita Untukmu ~ Part 5

    Lama kami terdiam, memandang langit penuh bintang. Hanya keheningan yang kami rasakan. Meski dalam diam aku mampu mendengar suara hati pria yang masih sangat aku cintai. Kata cintanya masih jelas ditelingaku. Putri Bulan hadir diantara kami, menambah syahdu malam itu. Dan semakin membuatku ingin memegangnya dan tak akan melepasnya sedetikpun.

    “Hex... Aku rindu.......”

    “Haah? Rindu? Rindu pada......??”

    “Aku merindukanmu.. Sangat rindu! Aku rindu sentuhanmu, aku rindu pelukanmu, aku rindu kecupmu, aku rindu suaramu, aku rindu semua tentang dirimu. Aku ingin kembali seperti dulu. Bisakah? Perasaanku masih tak berubah sejak dulu bahkan sampai nanti. Aku masih tetap mencintaimu. Hatiku masih setia padamu. Apa aku terlalu egois?”

    “Gie.. Kembali lah padanya. Itu lebih baik daripada kau disini bersamaku. Takkan ada yang bisa kita lakukan, dan ini hanya akan membuat kita semakin terpuruk. Pulanglah! Tapi jika suatu saat kau rindu, datanglah kesini dan kau pasti akan menemukan aku tetap disini. Kita tak bisa melawan kenyataan pahit ini. Ketika kau tak bisa kesini, pandang lah pangeran matahari dan yakini kau melihatku disana. Ketika rindumu tak tertahankan berceritalah pada peri bintang, dia akan mengobati semua rindumu. Aku sudah menitipkan pesan pada putri bulan untuk selalu menjagamu dari kejauhan.. Aku pun sangat merindukanmu Gie.. Tapi ini yang terbaik untuk kita.. Dan jika waktu mengizinkan, aku tak akan melepasmu dikehidupan berikutnya. Aku tak akan terlalu mudah menyerah untuk mempertahankanmu tuk tetap disisiku..”

    Hex memelukku sekali lagi setelah saat terakhir kami berpisah. Masih sama bahkan lebih hangat karna mungkin lebih aku rindukan. Dia mengusap air mataku dan mengantarku ke mobilku. Perlahan ke empat roda mulai berputar dan semakin cepat karena jalan yang juga turunan. Aku berusaha menahan tangisku, namun rasa sakit ini terlalu menusuk hingga ke tulang.

         Dan sesaat pandanganku buram oleh air mataku. Tapi laju kendaraanku tak ku kurangi, hingga hal terakhir yang masih dapat ku lihat adalah mobilku menabrak pembatas jalan. Aku melihat Hex menghampiriku sambil berlari kemudian dia memeluk sambil memangil-manggil namaku.

         Dengan tersenyum dan bahagia aku berbisik, “Ku tunggu kau dikehidupan yang berikutnya, Hex....”.


Saturday, October 3, 2015

Ini Janjiku..

Beberapa waktu belakangan ini, sering terbesit dalam pikiranku tentang beberapa hal. Hal yang sungguh mengganggu pikiranku. Tentang apa yang aku (sering) lakukan. Aku tak akan mengatakan kau juga melakukannya. Ini tentang diriku sendiri.

Terlalu mudah bagiku untuk mengomentari orang lain. Tentang apa yang digunakan, apa yang dilakukan, tentang hidupnya, bahkan tentang hal yang mungkin orang lain pun tak melihatnya. Terlalu gampang untuk membicarakan kejelekan orang lain tanpa memandang kebaikan yang pernah dia lakukan. Tak sulit mengungkit masa lalunya dengan mengabaikan masa sekarangnya.

Hal yang paling menyenangkan adalah mencampuri urusan orang lain tanpa ingin hidupnya dicampuri siapapun. Bukankah begitu? Aku suka mengatur orang lain, dan tak ingin diganggu dengan keputusanku. Kadang aku merasa lebih tau dari mereka. Aku lebih pintar, dan aku punya pengalaman sedangkan mereka tidak. Berusaha mengubah jalan mereka sesuai keinginanku. Mengganti ingin mereka seperti kemauanku.

Mengatakan seorang tidak layak dengan semua kesalahannya adalah hal yang terlalu cepat keluar dari bibirku. Sedangkan aku tak ingat bahwa aku pun menyimpan sejuta masa lalu yang suram. Ketika kata-kata telah terlontar, terbesit kemudian diriku yang juga seperti mereka. Gak pantas seorang yang hina menjelekkan orang dengan kesalahannya. Aku tak layak membicarakan debu dalam dirinya sedangkan aku pun berlumpur.

Kali ini aku tersadar dan ingin berhenti. Berhenti melakukan apa yang telah ku anggap salah. Berhenti membicarakan selumbar dimata orang lain saat balok dimataku tak aku buang. Aku akan berhenti mencampuri urusan orang lain dan mengurusi hidup ku sendiri. Berhenti mengusik siapapun dan fokus tentang diriku sendiri. Aku berhenti.

Aku minta maaf untuk setiap hal yang tak kau sukai tapi kulakukan. Maaf aku telah mencampuri masalahmu. Maaf telah mengusik hidupmu. Aku berjanji tak akan menyentuh urusanmu. Dan mungkin untuk keluar dari setiap bagian hidupmu.
Aku tak akan lagi melakukan itu, karna mungkin aku akan sibuk memperbaiki diriku sendiri.

Maafkan aku dan ini janjiku..

-GIE-

Friday, October 2, 2015

If Only I Had..


"If I had asked that day, would you have stayed?"

Aku sadar semua terlambat! Sebuah penyesalan yang mungkin tak ada gunanya lagi. Tak akan berfungsi untuk mengubah realita yang terjadi. Aku disini hanya tersisa dengan secuil kenangan yang cuma mampu aku ratapi. Memori itu masih tertata rapi disini. Tepat di dalam tiap sel otakku. Di tiap aliran darah dalam nadiku. Di tiap debaran dan detak jantungku, semua itu masih mengingatkan akan kebodohanku yang masih aku sesalkan.

Mungkin dulu rasa kita sama. Mungkin aku yang tak pernah menyadari rasamu padaku. Jauh dalam lubuk hatiku saat itu, hanya kamu seorang yang selalu bertahta. Detik yang kita lalui saat dulu, selalu ku harap untuk tak pernah berakhir. Aku ingin selamanya. Tapi entah mengapa selamanya tak pernah mampu terucap di bibirku.

Perasaan yang semakin mendalam, hanya mampu tertanam dalam kalbu. Tak pernah mampu terucap. Pahamilah aku, aku bukan mereka yang mampu dengan mudah menyatakan rasanya. Ketakutan atas penolakanmu menjadi dinding penghalangku tuk katakan semua itu. Aku takut kita akan berjarak saat aku menyatakan apa yang ada dipikiranku. Aku takut untuk hal yang mungkin tak akan terjadi. Namun pintaku, pahamilah aku.

Hingga akhirnya jarak benar-benar membawamu pergi. Pergi untuk mungkin tak kembali. Pergi menjauh dari semua anganku. Pergi disaat aku belum siap untuk lirihkan tiap debaran kala aku bersamamu. Perih memang, tapi aku tak berkuasa atas jarak dan waktu. Dan aku hanya mampu terdiam saat kau melangkah menjauh dariku. Dalam benakku, terbesit kalimat, : “Aku tak akan ragu ungkapkan ini dipertemuan kita berikutnya..”. Apa kau mendengar itu? Apa saat itu rasamu juga sakit? Apa saat itu kau sunggu rela meninggalkanku?

Dan semua jawaban itu, aku dapat setelah aku tersadar bahwa kini aku terlambat. Sebelum aku berani, dia terlebih dahulu mengajakmu bersama angannya. Dan ketika aku siap dengan rasa dan hatiku, kau telah bersanding bahagia dengannya. Apa kau benar-benar bahagia? Apa aku tak pernah muncul dalam benakmu, bahkan untuk sedetikpun?

Ini salahku, andai saja aku lebih berani! Andai saja tak ku tunda waktuku! Andai saja aku menahanmu waktu itu, mungkinkah kau akan disampingku? Andai saja aku tak terlambat, mungkin bahagia kita masih menyatu. Andai saja aku tak terlalu bodoh membiarkan setengah hidupku berlalu dari hadapanku, mungkin hidup ini masih akan sangat menyenangkan.

Jika seandainya saat itu aku memintamu untuk tak pergi, maukah kau tuk tetap disini bersamaku? Maafkan aku yang terlambat memintamu untuk tinggal. Maafkan aku yang tak mampu berucap saat dulu. Maafkan aku yang mungkin tak memiliki kesempatan kedua denganmu..

Inspired by a short movie titled “STAY”

Wednesday, September 30, 2015

Bukan Untukku, tapi Untuk Bangsamu

sekilas wajah mereka terpampang dalam anganku
tentang kisah yang dahulu di elu
tentang wajah sendu menantang benalu
tentang asa terbakar penuh haru
demi esok yang baru
 
waktu membawaku berlayar
ke masa saat ilmu tak mampu terbayar
ketika si miskin tak layak untuk pintar
ketika jendela dunia hanya untuk mereka saudagar
ke masa dimana wanita hanya mampu bersandar
pada dinding tempat abu bakar
 
bukankah kita berhutang?
berhutang pada mereka yang dulu berjuang
berperang dengan tangan sebagai tameng
melawan dengan otak yang cemerlang
menaikkan harkat dan derajat
agar kita tak terikat oleh jerat
jerat dari otak yang berkarat
para penjajah-penjajah jahat
 
namun lihatlah kalian kini
tak ada niat membalas budi
sebuah harga yang kalian injak mati
dengan menghamburkan ilmu ke kali
bukan ke dalam hati
 
jika bibir mereka mampu bersuara
jika mata mereka dapat terbuka
dan melihat kalian para siswa
tak pernah hargai tiap usaha mereka
yang tercipta dengan tiap titik air mata
juga dengan tetesan darah yang tersisa
bukankah pedih yang mereka rasa
melihat bangsa yang tak lagi berharga
untuk diperjuangkan dengan asa

bangkitlah dan berubahlah
bukan untukku tapi untuk bangsamu
balas tiap air mata yang tumpah
dengan prestasi yang tertoreh
dengan semangat membangun bangsa
dengan tetesan darah yang masih ada
agar tiap usaha menjadi bermakna

Jakarta, 30 September 2015

Thursday, September 24, 2015

Sahabat, Kata Mereka

Sahabat..
Itu kata mereka
tapi apa memang kita begitu?
yang ku tau kita tak lagi sejiwa
kita tak juga satu tuju

kukira aku berharga dimatamu
nyatanya semua hanya ilusi
ketika aku beri percayaku
namun kau hempas aku bersama caci
tanpa hiraukan bibir yang kini kelu
bersama perih dalam hati

menyesal..??
bukan.. aku tak menyesal teman
kasih ini butakan ego dalam nadi
hingga kecewa tak mampu terluapkan
meski sakit yang semakin kuasai

sempat terpikir bahagia ini sampai mati
nyatanya hanya sebatas cerita dalam mimpi
aku tak ingin pergi
tapi dia larikan kau dari sisi
kini angin temani dalam sepi

Sahabat...
Itu kata mereka
dan biar langit yang tau
aku tak ingin bersuara
biar dinding yang berseru
ceritakan tentang kita
serta pemisah kau dan aku


Jakarta, 23 September 2015

Wednesday, September 23, 2015

Untitled

Yang terjadi biarlah terjadi,
Tak perlu ada keluh dalam hati
Biarkan angin yang bawa mereka pergi
Biarkan bintang menari
Tepiskan kelabu di langit malam ini
Kembalikan pelangi
Dan tepis setiap hujan yang mengiringi
Kemudian nadi kembali sunyi
Dan senyum pun menyaingi
Jiwa yang damai kini..

Jakarta, 23 September 2015

Rindu Sebatas Pulsa

Aku di sini dan kau di sana;
Hanya berjumpa via suara;
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa..


LDR? Apa itu LDR? LDR adalah singkatan dari Long Distance Relationship, ini adalah hubungan jarak jauh. Yang artinya juga berarti dua orang yang saling berhubungan namun terpisah oleh jarak yang tak dapat ditempuh dalam waktu singkat. Yap, itu adalah hal yang gw rasain sekarang. Berhubungan sama seorang cowo tanpa bisa ketemu setiap hari. Susah? Sangat!! Kadang hal yang bikin kesel adalah ketika waktu kami gak sama. Waktu senggang kami beda, dan alhasil menumpuk rindu sampai waktu meluapkannya tiba. Kapan? Gak ada yang tau!

Terus gimana bisa bertahan? Di jaman sekarang gak ada yang gak canggih. Kalo jaman dulu cuma bisa liat tulisan dan itupun benar-benar harus menumpuk rindu sekian karung. Sekarang tinggal buka HP kirim pesan singkat, atau telepon atau bisa juga sama yang namanya Video Call. Karna jaman sudah terlalu canggih, makanya semua serba bisa. Jarak pun tak pernah jadi masalah. Bahkan untuk mereka yang terpisahkan pulau atau negara dan tak terkecuali benua, semua itu tak akan menghalangi kisah kasih mereka yang berjauhan.

Hanya aja ada satu masalah, semua memang sudah canggih. Ponselpun sudah sangat pintar, tapi menurut gw Smartphone  ini tidak akan bisa benar-benar berfungsi kalau gak ada PULSAnya. Karna yang mengatur itu pulsa, cost yang kita gunakan disini sebagai pengganti ongkos pertemuan. Tapi kan pulsa ini jauh lebih murah dibandingkan dengan ongkos. Nah jadi kebutuhan orang-orang yang LDR-an adalah PULSA MURAH. Dimana selayaknya prinsip ekonomi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan biaya yang sekecil-kecilnya.

Pengalaman gw adalah ketika pulsa gak ada, rindu ini benar-benar mengganggu karna gak ada yang bisa ngobatin kecuali suara dia yang jauh disana. Dan yang lebih parahnya adalah pulsa gak ada, uang di tangan sekarat dan gak ada pertolongan yang bisa diandalkan. Berusaha sampai malam mencari cara supaya pulsa ini terisi. Ngecek mobile banking berkali-kali, padahal mah isinya juga gak bakal nambah. Cuma bisa berharap pada PULSA MURAH JAKARTA yang mungkin aja gak ada. Karna semua di Jakarta serba mahal. Dalam keadaan sekarat gini, yang biasanya masih terjangkau yah nyari temen yang jual PULSA ELEKTRIK. Kenapa temen, karna cuma ke dia yang bisa TU dulu alias ngutang.

Mulailah otak berpikir siapa yang jual PULSA ELEKTRIK JAKARTA yang murah. Sampai akhirnya ilham itu datang dan muncullah satu nama dan langsung aja minta di isiin pulsa. Gak lupa dengan nada rada melas (memohon belas kasihan) supaya diizinin bayarnya nantian aja habis rejeki datang. Dan sebelum tengah malam pulsa sudah sampai.

Dan akhirnya pulsa terisi, dompet terselamatkan dan rindu terluapkan. Gak ada yang dirugikan kok disini. Tapi rasanya LDR-an gak pake pulsa itu kaya udah gak ketemu bertahun-tahun atau terjebak di hutan pedalaman sendirian. Dan pasti pengen nangis berhari-hari *lebay sih ini*.

Eh, siapa sih yang punya ide bikin pulsa dan sejenisnya ini? Pengen deh ketemu orangnya trus bilang makasih banget untuk bikin jarak tiada berarti, dan rindu selalu terobati. Pengen bilang juga kalo bukan karna dia mungkin gw gak akan pernah memilih untuk LDR-an.

Jadi rinduku hanya sebatas pulsa. Rindu ini bakal selalu terobati dengan adanya pulsa murah yang ditawarkan sama para penjual pulsa. Rindu sebatas Pulsa.

Monday, September 21, 2015

Untuk Priaku yang Terpisah Jarak dan Sedang Berjuang dengan Skripsinya

Berjuang bukanlah menjadi hal yang mudah untuk di lakukan. Akan terjadi masa dimana ketika berjuang terasa melelahkan dan ingin berhenti. Namun ketika ingin berhenti, bukankah seharusnya kita mengingat apa yang menjadi alasan kita untuk memulai berjuang. Hingga ketika kau terjatuh, alasan ini akan selalu menjadi motivasimu untuk bangkit.


Perjuangan yang kau lakukan ini untuk dirimu di depan nanti sayang.

Bukankah lulus adalah impian dan angan pertamamu? Bukankah membangun masa depan adalah hal yang telah kau rencakan setiap harinya ketika mengawali tingkat pertama perkuliahanmu? Membayangkan kau akan menjadi hebat dan mampu melakukan semua yang kau ingin dengan jerih payahmu sendiri? Bukan lagi menjadi orang yang bergantung pada kedua orang tuamu? Perjuanganmu yang hanya tinggal selangkah harusnya mengingatkanmu tentang semua itu.


Perjuangan ini pun kau lakukan untuk orang tuamu.

Bahagiamu adalah memandang senyum bangga dari mereka yang membesarkan mu. Namun ketika lelahmu lebih menguasai daripada asamu, mungkin kau tak akan pernah melihat senyum dari wajah mereka. Dan penyesalan terbesarmu akan menghantui mu selalu atas senyum yang tak sempat kau lihat.

Selangkah yang menyiksa tapi takkan kau sesali

Tugas akhir mungkin terasa memuakkan. Tapi percayalah ini akan menjadi memori terindahmu. Hal yang tak akan pernah kau sesali. Hal yang akan menjadi perlajaranmu seumur hidup. Belajar menjadi sabar, dan tak akan menyerah. Belajar untuk menghargai waktu, dan betapa mahalnya harga sebuah perjuangan. Bertemanlah dengan skripsi ini, maka semua nya akan terlihat mudah. Yakinlah pada dirimu sendiri, maka kejenuhan tak akan memanjakanmu.

Berjuanglah untuk menghapus jarak yang memisahkan kita

Jika kau menyerah disini, mungkin jarak antara kita takkan pernah terhapus. Kita akan selalu terpisah dan aku hanya akan mampu mendengar suaramu dan membayangkan mu dari jauh. Bukankah kau ingin selalu melihatku tanpa jarak? Maka berjuanglah priaku, agar jarak ini semakin menipis.


Berjuanglah demi penantianku yang masih ku pertahankan

Aku disini menantimu. Akankah kau menyia-nyiakan perjuanganku untuk menunggumu disini? Pepatah mengatakan, berjuanglah dengan dia yang mau berjuang bersamamu. Jadi tegakah dirimu membiarkan ku berjuang sendiri untuk kita? Aku disini selalu mendukungmu, mendoakanmu, menyemangatimu dan selalu ada untukmu. Meski aku tak dapat selalu hadir di hadapanmu. Tapi aku mohon, berjuanglah menyelesaikan tugas akhirmu di perkuliahanmu, dan aku juga akan berjuang untuk kita disini. Berjuanglah untuk aku, kamu dan kita.


Apa yang kau lakukan sekarang semata-mata bukan tak ada ujungnya. Bukan pula tak ada gunanya. Semua yang telah kau capai sekarang adalah bukti dimana kau pun harus mengakhiri semua apa yang telah kau mulai, dengan hasil yang kau impikan dari awal. Ingatlah mimpi ketika kau menginjakkan kaki pertama kali di tempat perkuliahanmu itu. Hingga kau tak ingin menyerah disini. Ingatlah tujuanmu di depan sana, agar kau takkan berhenti di tengah jalan. Ingatlah aku disini, agar kau takkan berhenti disini dan kemudian menyelesaikan semuanya.


Selamat Malam Pangeran Matahari

Kilaumu tampak berbeda
Tak serupa kala awal kita jumpa
Saat aku mengenalmu pertama

Sejenak lupakan gundah yang merana
Tiap aku dan kau bersama
Tiap kali kita berdua

Hangatmu berikan senyum merona
Butiran cahaya yang pancarkan cinta
Juga warna yang bangkitkan asa

Coba pejamkan mata
Rasakan kau dalam gulita
Kicau indah berbalasan mesra
Bersenandung dalam gendang telinga
Iringi langkah yang beranjak keperaduan jiwa

Harum kehijauan amat terasa
Hidupkan suasana yang ada
Berharap kau tak akan kemana
Temani hati yang sedang berkelana

Kau memang berbeda
Karna akupun tak sama
Drama cinta dan hidup yang berkuasa
Layukan asa dalam jiwa
Namun kau beri aku tawa
Dalam tiap titik cahaya
Kau beri aku cinta
Di tiap pelukan hangat menyapa

Terimakasih untuk masih disana
Untuk selalu indah dan berwarna
Untuk hangat dan tawa serta cinta
Juga asa yang tak pernah terlupa

Selamat malam pangeran Matahari
Aku masih akan disini
Menanti kau akan kembali
Beri aku kedamaian hati...

Jakarta, 20 September 2015

Tuesday, September 1, 2015

Keluh Kesah Kalbu

Apa aku harus memutar waktu kembali ke masa lalu, agar kau sudi memandangku?
Apa aku harus hilang ingatan agar kisahku tak lagi kau pedulikan?
Apa aku harus mengubur jauh perasaanku agar curigamu tak mengusikku?
Apa tangisan pedihku perlu ku perdengarkan agar kau dapat hiraukan mereka?
Atau perlukah aku hapus sejarah agar senyummu tersirat untukku?

Sekotor itukah aku di depanmu, hingga aku tak layak di pandang matamu?
Sehina apa aku, hingga bahagiaku kau pertanyakan?

Layakkah aku tertawa di benakmu?

Sejenak ingin aku tinggalkan semua keluh ini dalam kalbu dan tenggelamkan semua dalam palung jiwa..
Hanya saja itu terlalu dangkal hingga kau mampu temukan semua yang ingin aku sembunyikan.

Lalu aku harus apa?
Mengapa tak kau izinkan aku bahagia?
Mengapa tak kau relakan aku tertawa?

Mungkin lebih baik aku berlalu..
Berlalu dan lupakan saat dulu..

Mungkin aku harus menghilang
Agar tak lagi kisahku berkumandang..

Bukan lebih baik bila aku menepi, daripada membela diri?

Biar saja tak kurasakan bahagiaku di sini, asalkan kau tak lagi bicarakan perih hati ini..

Aku pergi, bukan tak berani membela diri, hanya mungkin aku terlalu perih dan tersakiti kali ini..

Wednesday, August 26, 2015

From Heart With Love

Dear Er..

Er kamu itu berkat buat aku, karna aku bisa selalu bersyukur bareng kamu. Kamu itu mata aku, dan karna kamu aku bisa ngeliat dunia lebih luas lagi. Kamu itu kaki buat aku, bikin aku bisa ngejalanin tempat indah yang gak pernah aku kunjungin. Kamu itu senyum aku, yang selalu merekah di sela-sela sepiku. Kamu itu bahagia aku yang selalu mengitari disetiap hari ku.

Aku akui dirimu bukan yang pertama dalam hidupku, tapi aku gak pernah punya pengalaman kaya apa yang aku rasain bareng kamu. Aku belajar lebih berani menghadapi ketakutan aku dalam hidup. Kalo kamu bilang kamu belajar berani dari aku, aku pun begitu. Aku belajar banyak hal baru bersamamu. Belajar menjadi wanita tangguh. Belajar menjadi lebih mandiri. Belajar untuk merubah sifatku yang tak baik. Belajar untuk selalu tersenyum dalam tiap masalahku. Belajar menjadi wanita pengertian. Belajar untuk gak egois. Belajar untuk menghargai waktu, belajar untuk menjadi lebih dewasa. Belajar untuk lebih jujur dan mengungkapkan apa yang ada di hati.

Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.. Aku cinta sama kamu.. Aku bahagia bareng sama kamu. Aku nyaman banget sama kamu. Aku pengen selalu bareng kamu. Aku pengen menjelajah dunia dengan kamu. Aku selalu pengen kamu jadi alasan aku untuk bahagia. Aku pengen menyambut matahari pagi disamping kamu. Aku pengen ngelepas matahari sore sama kamu.

Jangan pernah gak semangat buat jalanin hari-hari ini yah.. Kapanpun kamu ngerasa gak baik, inget ada aku selalu siap buat kamu. Selalu siap buat semangatin kamu, buat bikin kamu tersenyum. Meski aku gak bisa selalu hadir di depanmu, tapi percayalah aku selalu hadir di hati kamu. Aku selalu ada di pikiran kamu. Dan aku selalu ada di bayangan kamu.

Setiap kali kamu liat mentari pagi dan sore, ingat juga kalo aku lagi ngelihat hal yang sama seperti apa yang mata kamu lihat. Dan itu berarti kita gak pernah jauh. Kita selalu berdampingan karna kita masih bisa melihat hal yang sama meski dari tempat yang berbeda. Setiap kali kamu lihat bintang, aku juga masih ngelihat itu. Dan ngebuktiin bahwa aku akan selalu nemenin kamu kapanpun itu. Saat kamu ngerasa kangen aku, bilang aja langsung ke aku.. Aku pasti bakal datang langsung di samping kamu. Entah secara nyata atau imajinasi.

Aku selalu pengen jadi alasan bahagia kamu. Alasan kenapa kamu tersenyum. Alasan kamu ketawa, alasan kamu selalu merasa semangat. Aku pengen menjadi hal kecil tapi terpenting dalam hidup kamu. Aku pengen jadi orang yang kamu perkenalkan sebagai hadiah terindah dalam hidup kamu.

Terimakasih yah Er udah jadi bagian terbaik dalam hidupku. Terimakasih untuk semua hal yang selalu kamu kasih ke aku. Terimakasih untuk setiap memori yang kamu rajut bareng sama aku. Aku cinta kamu Er.. :)


-GIE-

Tuesday, August 18, 2015

Aku Jatuh dan Aku Takut

Aku tak mengerti bagaimana isi hatimu untukku. Aku tak bisa mengartikan caramu menatapku, caramu berbicara padaku. Aku tak mampu menghubungkan semua pertanda itu. Aku bisa saja terlihat terlalu bijak untuk memberi saran pada orang lain, namun aku tak bisa menasihati diriku sendiri. Aku mungkin tampak mahir dalam permainan hidup, namun bukan untuk diriku sendiri. Bukan pula untuk hidupku. Hidupku terlihat suram dan buram. Aku tak dapat benar-benar melihat apa yang ada didepanku dan apa yang harus aku lakukan.

Aku hanya menjalani setiap langkahnya, dan jika tak sengaja maka aku akan tersesat dijalan yang salah. Entahlah, tapi bagiku menasihati orang lain jauh lebih mudah. Membantu menyelesaikan masalah orang lain terlihat lebih sederhana. Mendengarkan problematika orang lain membantu ku untuk memikirkan solusi yang tepat.

Aku jatuh hati pada saat yang salah. Aku jatuh hati padamu. Tapi aku tak pernah tau apa aku jatuh pada hati yang tepat. Karna terlalu sakit bila aku jatuh di hati yang salah. Aku bukan seorang yang sempurna dalam mencintai, namun ketika aku melakukannya, maka kau harus tau bahwa itu adalah hal tertulus yang pernah aku lakukan.

Dan seperti yang aku katakan padamu, aku tak pernah mampu membaca gerakmu. Maka rasa hati ini terkadang seperti takut untuk lanjutkan semua. Terkadang logika sampaikan pada hati bahwa rasa ini hanya sepihak, namun terkadang hati berusaha meyakinkan logika bahwa rasa ini bersambut. Tapi ketakutan dalam otak terlalu kuat hingga balur semua keyakinan hati.

Lalu aku harus bagaimana? 

Aku yakin jalan kita berbeda. Ingin aku menyudahi semua, agar aku tak jatuh terlalu dalam, terperosok dan akhirnya tak bisa bangkit. Namun hati selalu ingin disisimu, merasakan mentari berdua dan nikmati dunia bersama. Tapi aku bisa apa jika jalan kita tak pernah bertemu? Aku harus apa jika memang tujuan kita tak pernah jadi satu?

Aku bukan sang pemain, aku hanyalah seorang wanita yang terlalu mudah percaya pada cinta. Terlalu tergantung pada perasaan, seorang wanita yang berimajinasi terlalu tinggi tentang kisah cintanya. Tak sulit buat aku jatuh hati. Cukup ajak aku berimajinasi dan semua tentang dirimu akan selalu ada di dalam otak ku. Detail tentangmu akan memenuhi semua selku, mengalir dalam darahkan dan di alirkan melalu nadiku.

Dan terkadang aku yang terlalu menggunakan perasaanku untuk semua itu. Sehingga hanya aku yang merasakan bahagia ini. Hanya aku yang berharap pada waktu untuk berhenti dan buat kita selalu bersama. Mengertikah dirimu? Ini adalah hal yang selalu aku takutkan dan selalu menghantui aku.

Bagaimana jika aku tak pernah bertemu denganmu?
Mungkin tulisan ini tak akan pernah ada. 
Bagaimana jika saat itu aku tak menggunakan perasaanku?
Mungkin takut ini pun tak akan pernah menghantui aku..

Apa dirimu pernah berpikir tentang ini? Tentang bagaimana kisah kita didepan nanti? Apa kau juga berpikir seperti apa yang aku pikirkan? Apa kau dihantui rasa takut yang sama? Atau mungkin kau tak pernah berpikiran yang sama dengan ku? Apa aku terlalu egois dengan sikapku yang seperti ini?

Aku menyukaimu, aku jatuh di hatimu, namun apa kita benar-benar bisa bersama?

Wednesday, August 12, 2015

Matahari Senja

Matahari senja selalu mampu membuatku jatuh cinta. Keindahan dan keajaiban yang aku rasakan tiap kali aku melihatnya. Entahlah, tapi bagiku dia begitu mengagumkan. Mereka berkata aku terlalu berlebihan, tapi apa peduliku tentang mereka? Karna rasa ini aku yang punya. Mataku mampu melihat kemolekan matahari senja daripada mereka. Hatiku mampu rasakan keistimewaan dari sinar merah keemasan itu.

Yah, kuning bergradiasi merah berikan hangat yang cukup untuk mereka yang sedang kelabu. Langitpun turut memerah bersama mentari dan berikan suasana syahdu. Pohon berdansa pelan seolah ikut berbahagia denganku dan langit. Kicauan burung mulai mengalun lembut berikan musik merdu yang menenangkan. Angin yang perlahan berhembus mengibaskan rambutku. Kemudian cahaya mentari senja mulai turun dan menyeruak diantara pepohonan yang menjulang.

Dan matahari senja, selalu mampu buatku jatuh cinta. Jatuh cinta pada tiap detil yang ada. Jatuh cinta pada tiap pandangan mata. Jatuh cinta untuk semua hal yang ada di hadapanku. Jatuh cinta pada dia yang juga nikmati suasana ini. Jatuh cinta pada dia yang juga miliki perasaan ini, perasaan jatuh cinta pada matahari senja.

Setiap sentuhan hangat matahari senja ini buatku ingin selalu mengulang momen sore ini selalu.


Tuesday, August 11, 2015

Thank You

Thank you for the smile
That never fails to brighten my day
For the tender look
When you gaze at me with eyes
that warm my heart
For the music of your laugther,
Touch that makes my pulse go faster
Thanks for all the memories of a lifetime
Thank you for the fire that you have set ablaze within me
With your kisses you´ve awakened
This old heart from its slumber
I feel like seventeen again,
It´s all because of you
Thanks for choosing me from
all the rest
Though I´m far from being the best.
Most of all I want to thank you, love,
for loving me

Aku Pasti Menunggu

Dan Matahari mulai beranjak ke peraduannya, menyisakan sedikit kehangatan yang perlahan mulai berganti kelam. Malam, dingin, gelap! Tak ada kehangatan bagiku dalam dunia malam ini. Dia pergi dariku tanpa pernah tau hatiku. Dia tinggalkan aku tanpa bertanya bagaimana keadaanku. Dia berlalu begitu saja, tanpa mengerti sedikit saja perasaanku.

Aku yang tak mampu berkata apapun, hanya bisa terdiam tak berkutik. Rasa ini terlalu sakit ditinggalkan. Sendiri dalam gelap tanpa cahaya dan kehangatan, lalu aku bisa apa. Memikirkannya saja aku tak kuasa. Terlebih lagi bila aku harus lalui semua ini. Tapi apa dia tau rasa ini? Yah.. Aku memang tak mungkin menahannya disini. Keadaan yang memaksanya untuk berlalu. Dia memang harus tinggalkan aku disini meski dia pun tak ingin.

Yang sanggup aku lakukan sekarang adalah berharap pada waktu agar cepat berputar dan membawa matahariku kembali padaku. Berdoa pada sang Maha Kuasa agar malam tak akan lama dan kehangatanku kembali. Dan aku pasti akan tetap menunggu, menunggu saat dia kembali dari ujung bumi dan berada disisiku.

Sampai waktu itu tiba, aku akan tetap setia menantinya. Dan bila dia kembali, maka dia akan melihatku sebagai seorang yang berharga untuknya. Dia tak akan meragukan hatiku saat itu. Saat dimana dia menatapku tetap bertahan untuk kehadirannya.

Aku akan bertahan malam ini, untuk menyambutmu besok pagi matahari, percayalah padaku..


Sunday, August 9, 2015

Lomba Puisi Terakota

Sekitar bulan April 2015, gw iseng nyari lomba puisi. Soalnya waktu itu gw lagi cinta banget ama nulis puisi. Dan usaha gw gak sia-sia, gw menemukan lomba puisi di Internet. Yah, gak lomba besar, tapi ini nasional. Hadiahnya juga gak gede, malah bisa gw bilang kecil. Tapi yang penting itu Euforia dari nulis puisi dan di kompetisiin.

Akhirnya gw dengan semangat membara, mulai mikir apa yang bakal gw tulis. Oia, temanya adalah Puisi Terakota yang berarti menulis puisi tentang sebuah kota. Jadi gw mulai berpikir kota mana yang punya paling banyak kenangan buat gw. Sampai kemudian terlintaslah sebuah kota yang sampai saat ini masih membekas jelas di setiap kenangan dalam memori otak gw. Iya, Bandung!

Kenapa Bandung? Karna Bandung punya daya tarik tersendiri buat gw. Buat gw Bandung itu gak cuma tempat gw kuliah. Dia adalah saksi bisu di hidup gw yang ngelihat gimana gw beranjak dewasa. Gimana gw mengakhiri masa remaja gw, masa pra dewasa gw. Menjalani cinta dan hidup, melatih mental dan juga cara berpikir. Yap, banyak hal yang terjadi ke gw di Bandung.

Kemudian, mulailah gw menulis tentang Bandung. Menulis dengan sepenuh hati, yah sedikit berharap setidaknya puisi gw kali ini bisa masuk kederetan yang terpilih.

"..Sejarah kita tak pernah tersurat dengan tinta
Cerita kita hanyalah sebatas kata dalam suara
Kisah aku dan kau pun tak merekah di ingatan mereka
Ya.. Hanya aku dan kau menjadi kita

Kita arungi samudera hidup berdua
Tanpa peduli mereka yang mencerca asa....."

Lengkapnya ada disini : Bandung, Aku Pemujamu Dulu..

Dan sebulan berlalu tanpa ada apa-apa. Hanya ada update-an dari orang-orang yang udah ngirim puisi mereka. Oia ada lebih dari 200 puisi dan banyak penulis. Jadi kepikiran bakal jadi apa yah puisi gw ini. Hope for the best, ready for the worst! Ini adalah kalimat yang selalu melayang-layang di otak gw.

Dan akhirnya waktu yang ditentukan tiba. Waktu pemilihan pemenang. Tapi sebelum ke pemenang panitia milih 50 besar. Awalnya sih 50 tapi pada akhirnya mereka milih 85 puisi yang bakal di jadiin buku. Dan nama gw masuk ke 85 besar tersebut.