Welcome..!!!

Welcome To Gitche Yanti Malayani's Blog - Don't Forget to Comment And Share

Sunday, January 13, 2019

Ramai! Aku hanya tak nyaman!

Maafkan aku yang tak selalu bisa bergabung dalam keramaian. Cukup sulit. Rasanya seperti, melelahkan? Hmm, entahlah! Tak bisa aku deskripsikan. Terkadang disaat tertentu aku seperti tak ingin terlibat dalam sebuah keramaian. Meski hanya untuk duduk disana. Aku memilih duduk di sudut ruangan menikmati sepi dalam keramaian.

Aku tak mudah bergaul dalam keramaian. Meski aku bagian dari mereka. Bagiku keramaian adalah sesuatu yang asing.  Membuatku merasa terasing pula.

Maafkan aku juga bila aku terlihat menjauh darimu. Ramai buatku lelah berpikir dan aku tak ingin berpikir terlalu banyak.

Maaf jika aku mengecewakanmu dalam keramaian. Maaf jika aku terasa menjauh. Maaf ketika aku seolah acuh. Sekali lagi maafkan aku.

Thursday, December 13, 2018

Tunggu Aku Sebentar Lagi

Maafkan aku kali ini. Aku tak mengapa jika kau akan marah besar padaku. Aku bahkan sadar tak pantas menerima maafmu. Maafkan aku yang sering kali pergi lalu kembali ketika hatiku hancur. Maafkan aku yang tak jarang melukaimu dengan tingkahku. Maafkan aku ketika tak selalu disisimu.

Kebebasanku selama ini buatku menjadi apa aku sekarang. Ketika kau hadir dalam hidupku dan akan menjadi setengah dari hidupku, aku sadar aku tak lagi bisa seperti dulu. Namun sebagian dalam diriku adalah pemberontak yang selalu menginginkan kebebasan. Tak siap jika harus meninggalkan semua ini. Dan aku harap kau ingat pula bahwa sebagian dalam hidupku pun masih tetap tertuju padamu.

Perasaan bahagia ketika di kelilingi mereka yang menyayangiku selalu menjadi bagian terbaik dalam hidupku. Ketika memutuskan bersamamu maka harus ku relakan mereka sebagian pergi dariku. Buatku merasa tak memiliki siapapun. Ah rasa ini begitu rumit. Bersama dengan bebasku aku menemukan mereka, dan dengan hilang nya bebasku maka semua itupun lenyap tak tersisa. Maafkan aku jika aku belum siap untuk itu.

Secuil ego dalam diriku masih berkuasa. Meski kecil tapi dia punya pengaruh besar dalam hidupku. Dalam setiap keputusanku. Rasa yang dulu pernah ku tanam, ternyata bertumbuh meski sempat mati. Rasa yang sempat ku pupuk ketika belum bertemu denganmu. Maafkan aku ketika rasa itu tumbuh saat aku bersamamu. Maafkan ku yang tak bisa memilih ketika rasa itu kini mekar.

Ya, ku tau kau akan sangat marah padaku. Marahlah. Aku akan menerimanya. Aku memang tak ingin kau pergi, tapi jika pergi adalah lebih baik untuk mu maka aku tak akan menahanmu. Aku tau aku tak layak menahanmu. Aku sadar tak pantas terima maafmu. Meski begitu aku benar-benar mengerti bahwa semua ini salah. Aku tau aku menyakitimu.

Aku ingin kembali jika kau masih menunggu. Rasa ini tak akan hilang begitu mudah. Tapi bisakah kau tetap menungguku untuk datang padamu? Aku sedang berusaha memupuk setiap rasa hanya untukmu. Jika saja kau mau menanti. Yah, meski aku bukanlah sosok yang pantas kau nanti.

Tapi permintaanku, bisakah kau tunggu aku sebentar lagi? Sebentar lagi saja. Hingga aku akan merelakan setiap rasa yang kembali tumbuh ini. Dan aku bisa merelakan dia bahagia bukan bersamaku. Dan akan ku jalani kisah kita dengan tulus.

Thursday, November 1, 2018

Lardi Riauan Jais

Kali ini gw mau menceritakan tentang seorang Lardi. Seorang pria yang sempat gw sukai tapi gw gak pernah benar-benar memulai kisah dengannya. Biar gw ceritakan tentangnya lebih lanjut.

Awal perkenalan kami tidak pernah jelas dalam ingatan gw. Kalo kata dia sih, kami gak sengaja bertemu di sebuah jalan. Dan itu juga udah bertahun-tahun yang lalu. Sampe beberapa saat swtelah itu, kami temenan di media sosial. Ada FB dan Path. Karna memang dia ini adek dari temen gw dulu, jadi gw pikir gak akan terlalu canggung juga temenan di medsos ama dia.

Gak salah juga donk gw komen atau ngucapin  sesuatu (selamat ulang tahun misalnya) ke dia. Semenjak itu kami mulai berinteraksi di medsos. Tapi gak sering dan gw juga gak terlalu inget soal dia. Dan kemudian gw menyadari dia sering me-react love di path untuk setiap aktifitas gw. Dari situ gw notice sama kehadiran dia. Lalu tiba2 dia me-react sad di salah satu activity gw di path.

Gw kira ini orang cuma sekedar iseng selama ini dan formalitas aja nge reactnya. Tapi melihat respon yang beda kali ini bikin gw jadi makin sadar ada sesuatu. Tapi gw gak mau ke geeranlah. Siapa dia dan siapa gw.

Setelah itu interaksi kami terputus dan di lanjutkan beberapa waktu kemudian,dia komen di foto IG gw. Cukup panjang hingga akhirnya kami pindah ke DM dan lanjut ke WA. Sejak saat itu kami jadi intens untuk ngobrol. Wah, anaknya menarik banget yah buat di ajak ngobrol. Asyik buat di ajak ketawa. Gw akui, waktu itu adalah waktu dimana gw sering ketawa. Pastinya karna dia. Setiap hari gw jdi punya chat buat di tunggu dan bahan baru buat diketawain.

Gw gak mau baper saat itu, karna siapalah gw ini. Dan gosipnya dia juga punya pacar. Yah, gak berapa lama kami ketawa2 bareng, kami berantem. Komunikasi kami putus. Karna gw udah terbias sama dia, gw jadi mencari. Mencari keberadaan dia. Aniwei, sejak pertama kami ketemu, kami belum pernah ketemu lagi. Jadi gw bener-bener gak pernah tau secara fisik tentang orang ini meski kami udah sering ketawa bareng bahkan berantem.
Gw coba mulai komunikasi lagi sama dia, berharap baikan. Yees! Baikan. Tapi gak bertahan lama. Begitulah cerita kami, gak pernah benar-benar jelas. Dan gw belajar untuk  gak baper sama dia. Tapi emang gwnya aja yang gampang baper. Hufft
Baikan, berantem, putus, baikan, berantem, putus. Sampe pertengahan tahun dia ngechat gw dan ngobrol baik trus ngajak gw ketemuan. What!! Gw gak tau sih artinya ini apa. Seneng, tapi gak boleh baper.

Kami ketemuan dan dia bilang "you're prettier than your photo". Makasih loh. Tersanjung saya. Obrolan kami tidak menjurus (menurut gw), dan makin intense lagi, dan seperti biasa tiba2 dia hilang lagi. Gw yang udah terbiasa dengan keadaan ini jadi gak merasa tersakiti banget.

Beberapa bulan kemudian, he chat me again. Senang, kaget, tapi kali ini sadar udah gak boleh baper lagi. Trus dia bilang kalo dia suka sama gw sejak dulu. Well, thankyou so much but I know it late. Tapi paling gak ternyata selama ini gw gak bertepuk sebelah tangan. Orang yang gw suka, balik menyukai gwjuga.

Yah, intinya kami memang tidak berjodoh. Semua cerita bareng sama dia adalah cerita yang sangat menyenangkan, banyak banget pelajar yang dapat dari dia.
Di akhir tulisan ini, gw pengen mendeskripsikan beberapa hal tentang dia.
Baik, cukup dewasa, kritis, gak suka di kritik, mau menurut kadang2, ceria, supel, suka cari perhatian, selalu pengen bikin keceriaan buat sekitarnya, kadang suka marah (tapi gak ke gw), suka nyanyi, suka main musik (padahal gw suka banget cowo yang bisa main musik, kapan duet bareng kita?), penyayang adek, cukup royal, menghargai perempuan sih kadang, pengen tobat (rokoknyajuga yah).

Pesen gw : Jadilah dirimu sendiri, dan tetaplah di jalan yang benar.

Tuesday, October 23, 2018

Mirror

"The mirror will always tell you the truth about yourself. Be changed or be proud of it!"

Cobalah Berpaling!!

Biar aku menceritakanmu sesuatu. Tentang masa lalu ku yang sebenarnya buat aku tak percaya diri.

Dulu, aku tak bisa memandang diriku di cermin. Aku tak punya keberanian untuk menghadap dunia. Aku sadar aku tak semenarik mereka yang punya paras cantik dan mereka yang selalu mendapat apa yang diingini. Ya, dan aku pun tak selalu bersikap seperti mau mereka. Tapi selalu aku belajar bersikap tulus dan apa adanya tanpa prasangka. Berharap ada seseorang yang akan melihat ku tanpa penampilan luar ku. Melihat jauh ke dalam lubuk dan mata.

Karna rasa itu, tak selalu ku temukan pria pujaan hati seperti anganku. Lalu lama setelah itu, setelah perjalanan panjang cintaku, singgah di banyak hati lalu kecewa ku sadari ada beberapa mereka yang mencintaiku dengan tulus. Selayaknya inginku. Lucu!! Kali ini terasa lucu, ketika ku sadari kini bahwa dia tak mampu lepas kan aku. Mengapa?? Ya, itu jugalah yang jadi pertanyaanku. Aku yakin aku masih tak secantik mereka yang lain. Akupun masih bersikap seperti dulu, sesukaku!

Lalu apa yang buat dia tak mampu jalani hari tanpa diri ini? Apa aku sekeren itu? Iya, aku memang terlalu keren untuk kau sukai lalu kau tinggalkan. Terlalu keren untuk kau sia-siakan. Berani bertaruh? Lepaskan lah aku, maka akan ada benih penyesalan dalam hatimu. Suaraku akan selalu terngiang di telingamu, dan bayangku masih akan membayangimu. Namun bukan itu inginku! Percayalah, aku terlalu keren untuk tak kau pandang.

Sombong? Aku tak ingin sombong, tapi mungkin memang hatimu melihat ketulusanku. Meski matamu bisa saja tidak, namun aku percaya hati bisa memandang jauh melebihi apa yang mata lihat.

Mungkin itulah hukum kekekalan, menuai untuk apa yang kau tabur. Ingin jadi sekeren aku, jadilah keren dari hati. Jadilah tulus dengan hatimu. Jadilah tulus bagi siapa saja. Aku yakin kau bisa sekeren apa yang kau mau.

Cobalah berpaling dariku, jika saja kau bisa!

Wednesday, October 17, 2018

Menikahlah bersama Hatimu!

MENIKAH!

Idaman setiap orang bukan? Yah tidak semua, paling tidak impian setiap wanita adalah menikah. Akhirnya sebentar lagi aku akan menikah. Bahagia? Entahlah. Aku tak mengerti rasa ini. Awalnya terasa sangat menyenangkan, seperti mendapat sebuah hadiah utama. Rasanya seperti  ingin segera terjadi. Sebulan menjalani masih menyenangkan, memasuki bulan ke 2 mulai terasa hal-hal yang mulai menjengkelkan tapi masih bisa di tolerir. Bulan ketiga rasanya makin menyebalkan. Tapi aku bisa apa? Karna bulan ketiga adalah penentuan akhir tentang keputusan menikah ini. Setelah itu maka aku tak boleh mundur.

Kata orang begitulah menikah, semakin mendekati hari H maka akan banyak masalah yang terjadi. Kali ini masalah kami bukan soal eksternal, tapi dari internal kami sendiri. Ini perkara sikap dan sifat. Aku yang keras kepala di tuntut untuk menjadi lebih lembut. Sangat sulit. Bahkan terlalu sulit bagiku. Bukan, bukan aku tak bisa berubah. Hanya saja dalam waktu sesingkat itu rasanya mustahil. Aku yang terlalu mudah bosan, aku yang terbiasa dengan kebebasan, aku yang sering melakukan hal sesuka untuk diriku sendiri harus meninggalkan itu semua dengan usahaku sendiri. 

Iyah sendiri, aku merasa berusaha sendiri. Aku tak terlalu peka apakah dia membantuku untuk berubah. Beginikah rasanya mau menikah? Terkadang aku menyesalkan ucapanku yang begitu gegabah. Atau aku menyesalkan kenapa hal itu terjadi begitu mudahnya. Mengapa begitu mulusnya semuanya terjadi. Apa memang begitulah yang seharusnya? Tak jarang aku sering bertanya dalam hati “Apa kau yakin akan menikah dengannya? Apa kau yakin bisa menghadapi dia yang seperti ini? Apa kau benar-benar sudah meyakinkan hatimu?

Saat tak ada jalan untuk kembali, tak ada jalan untuk mundur dan ketika semua pertanda tiba-tiba berubah menjadi negative lalu mengarah pada kegagalan dan aku bisa apa kini. Hanya bisa bertahan sambil memperbaiki. Tidak! Ini bukan karna orang ketiga. Ini benar-benar dari internal kami masing-masing. Karna hati ku yang sering kali jadi batu dan dia tak mampu hadapinya. Dan masalahnya kini ada pada diriku. Kebosanan yang ku rasakan karna semakin kesini, dia tak menjadi seperti harapku.
Aku hanya berharap agar hati ini bisa mengerti bahwa tak ada jalan kembali, dan ini lah yang sudah di putuskan. Jika tak punya pilihan untuk menolak maka jalani dengan sepenuh hati. 


Otak : “ Aku tau kau akan mampu hati, aku yakin kau bisa merubah keadaan. Bukankah selalu begitu. Sesakit apapun yang kau rasakan, kau selalu bisa menemukan yang orang lain tak mampu lihat”

Hati : “Akan aku coba, menerima dan menjalaninya dengan tulus.. Tolong ingatkan aku selalu…”

Menikah ternyata tak semudah itu. Menikah tanpa dimulai dengan perasaan yang telah ada lebih sulit dari menikah berdasarkan rasa yang telah lama disana. Diantara dua hati.