Welcome..!!!

Welcome To Gitche Yanti Malayani's Blog - Don't Forget to Comment And Share

Friday, March 30, 2018

Surat

Dan oleh karna kegelisahanku yang masih kurasakan tentang dia yang dilambangkan oleh mawar biru maka aku berniat menuliskan surat ini untuknya. Surat ini bukan sekedar surat, tapi kata-kata yang ada disurat ini diambil dari ayat-ayat Alkitab. Kira-kira seperti ini isinya :

Teruntuk pria yang nun jauh disana.. 

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu (Fil 1:3). Namun, Hati sanubariku merana karna rindu (Ayub 19:27c). Sebab Allah adalah saksiku betapa dengan kasih mesra Kristus Yesus, merindukan kamu (Fil 1:8). Siang dan malam aku berdoa sungguh-sungguh supaya kita bertemu muka dengan muka (1 Tes 3:10). Hanya saja, Aku seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan (2Kor 10:1). Maafkanlah ketidakadilanku ini (2Kor 12:13c). Kau tau? Akal budi membuat seorang panjang sabar dan orang itu di puji karna memaafkan pelanggaran (Ams 19:11). Jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karna memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah (Kej 33:10). Aku harap segera berjumpa dengan engkau dan berbicara berhadapan muka (3 Yoh 1:14). Damai sejahtera menyertai engkau (3Yoh 15a)

Dari wanita yang ingin di anggap kehadirannya..

Jakarta, 2018

Aku berharap semoga dia memahami maksud dari tiap kata yang telah aku torehkan.

Thursday, March 29, 2018

Eben Haezer Silaen

Aku sedang menyukai seseorang. Akupun tak mengerti apa yang membuatku menyukainya. Sikapnya yang dingin ketika pertama kali aku menemuinya mungkin. Aku tak mungkin lupa tentang kali pertama aku bertemu dengannya.

Di lift lantai 1 menuju kelantai 4. Awal aku melihatnya dan muncul pertanyaan : "Siapa dia?". Seperti ada sesuatu yang menarik darinya. Dan aku tak butuh banyak alasan untuk menyukai seseorang. Ketika hatiku berkata aku suka, maka aku akan menyukainya. Tapi aku tak berharap banyak untuk lebih jauh, karna bisa saja itu pertemuan pertama dan terakhir kami. Jadi aku melupakannya. 

Namun takdir berkata lain. Itu bukan menjadi akhir, namun awal dari cerita ini. Sekitar 1 jam kemudian aku sadar bahwa ternyata kami menuju tempat yang sama. Kami punya acara yang sama. Kami berada di ruangan yang sama. Dalam sekejap aku berusaha menemukan namanya tapi tidak semudah itu. Tak kudapati namanya disana, entah karna terlalu banyak nama tapi intinya aku tidak menemukannya. Aku tersenyum tiap kali melihatnya. Berharap dia sadar akan kehadiranku. Hanya saja dia tidak sepeka diriku. Mungkin untuk ingat bahwa kami bertemu di lift saja, rasanya tidak mungkin. Hanya bisa berdoa. 

Sepanjang acara dia duduk di area kiriku. Ya, aku pasti tau. Karna aku memperhatikannya. Jika kau berkata aku berlebihan, tapi inlah diriku ketika menyukai seseorang. Aku sedikit bisa merasakan kehadirannya. Hingga sang pembawa acara menanyakan namanya dan aku pun tau. Iya, namanya Eben. Aku menemukan namanya di kertas absen - Eben Silaen. Aku berterimakasih kepada pembawa acara yang telah memberitahukan nama pria yang sedang ku perhatikan itu. 

Lima hari acara ini berlangsung membuatku sedikit sibuk memikirkan hal lain selain dirinya. Hingga hari terakhir aku benar-benar merasakan bahwa aku menyukainya. Berharap tau nomor hapenya secara langsung tapi aku gagal. Tidak, bukan berarti aku tak tau nomornya, tapi aku ingin menerima langsung dari dirinya. Aku tau, hanya bukan dari dirinya. Kami tergabung dalam group whatsapp. Jadi aku pasti tau. 

Aku menyukainya tapi itu bukan hal yang mudah. Seminggu aku berusaha melupakannya, tapi tetap saja rasa suka itu ada. Aku berpikir untuk melupakan rasa ini karna aku yakin itu tak mungkin terbalas. Iya, aku yakin itu mustahil. Tapi aku mau berusaha. 

Aku menghubunginya denga perasaan gentar, seperti seorang tentara yang sedang maju berperang dan tau dia akan gagal. Penuh rasa takut dan waswas. Temanku berkata : "jangan kalah sebelum berperang". Namun entahlah, aku sudah merasa kalah meski masih berusaha. Responnya memang seperti ekspektasiku, dan tidak seindah mimpi ku. Mimpiku terlalu mengada-ada. Tapi hatiku cukup senang ketika dia merespon dengan baik. Hanya saja aku tak berani memberitahukan namaku. Yah, tidak berani. Sangat amat tidak berani. Aku tau dia pasti mengenaliku, sayangnya aku tak tau apa kesan pertamanya padaku. Aku takut itu bukan kesan yang baik. Maka itulah alasan mengapa aku takut. 

Aku ingin membangun ulang kesan pertamanya padaku. Dan aku gagal! Beberapa hari kami hanya mengobrol singkat. Dia hanya menjawab apa yang aku tanya. Sakit! Tapi aku masih mau berusaha. Hingga kemudian tersebar berita bahwa dia sudah tau nama orang yang menghubungi nya (baca : namaku), dan itu makin membuatku gelisah. Benar saja, dia menyudahi semuanya. Semakin sakit! Rasanya usahaku gagal. Tak ada satupun yang bisa aku bangun dengan baik. Aku bisa apa? Tak ada! 

Dan hingga suatu kali kami bersama disebuah ruangan yang akhirnya kusadari hal itu. Yang aku sesalkan adalah momen itu tak bisa ku buat untuk membangun ulang kesannya tentangku. Aku, yang merasa kalah dan gagal, tak mengerti harus berbuat apa. Aku bahkan tak tau harus mengajaknya mengobrol atau tidak. Atau apa aku harus menyapanya. Pikiranku kalut! Aku tak pernah merasa segelisah itu. Aku seperti diawasi banyak mata. Takut kembali menyelimutiku.

Iyah, aku pengecut! 

Pengecut yang hanya mampu memandang dari jauh, menyukai dari tempat dimana dia tidak menyadariku. Aku pecundang yang tak bisa berjuang demi sesuatu yang sangat aku inginkan. Aku terlalu lemah hingga aku kalah sebelum berperang. Perasan itu masih sampai saat ini, namun entah dia akan mengerti itu atau tidak, aku tak tau. Aku hanya ingin tau apa yang dia pikirkan tentangku. Tidak, aku tak hanya ingin itu. Akupun ingin dia menyukai ku. Meski aku tahu itu mustahil. 

Jika Tuhan mengizinkanku, aku ingin menyampaikan ini langsung dihadapannya. Mengatakan bahwa aku masih menyukainya. 

Dia Eben Haezer Silaen.

Thursday, March 22, 2018

Hari-hari Terakhir

Menjelang hari terakhir dikantor ini rasanya biasa aja sih. Tapi pengen banget ninggalin kantor ini dengan menyenangkan. Pengen tetep di inget sama mereka yang masih stay disana. Sisa 2,5 minggu lagi.

Planning nya apa? Belum jelas sih. Tapi ada beberapa, cuma belum tau mana yang mau dilakukan. Mungkin bisa dimulai dengan refreshing dulu. Baru memperbaiki pola makan, pola tidur, check up dan lain-lainnya.

Mungkin sekarang gw mau ngeliat apa aja yang bisa gw lakuin setelah ini.

1. Keluar kota selama seminggu.
2. Mulai belajar tidur cepet dan bangun cepet.
3. Menjaga pola makan dan jenis makanan yang di makan.
4. Olahraga rajin.
5. Ikut KPA
6. Perbaiki cara belajar Alkitabnya.
7. Harus rajin baca buku Roh Nubuat.
8. Coba bikin kreatifitas
9. Belajar menjahit mungkin.
10. Ngedekor kosan
11. Ke perpustakaan kota.
12. Cari jodoh
13. Kayanya bisa nge apply ke mission nih..
14. Belajar masak.
15. Merajut!

Yang paling penting harus rehab dulu secara fisik. Kalo udah sehat, pasti bisa ngerjain smua yang di atas. Semangat Gie!!

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah meneringkan tulang.. :)

Wednesday, March 7, 2018

Move On itu Susah

"Jangan rindu! Berat, kamu gak akan kuat. Biar aku saja.."

Mungkin Dilan benar, apalagi kalo rindu sendiri. Ngebayangin dia gak rindu juga. Ngebayangin cuma aku yang punya rasa ini. Sesak. Pedih. Sakit. Karna perasaan yang sepihak sangat menyakitkan. Disaat dalam hati ini hanya dia, tapi dihatinya tidak ada aku. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika dia membiarkan jatuh semakin dalam dengan perasaan sendiri ini.

Tapi diatas semua itu yang berat adalah belajar move on. Kenapa sulit, karna belajar move on itu sendiri. Belajar move on itu dilakukan sendiri, jadi beban sendiri. Ngelihat dia sudah bahagia disana sementara hatiku masih terpuruk jatuh, itu makin menyulitkan untuk berpindah hati. Seolah berpikir bahwa yang cinta hanyalah ku seorang, dan dia tidak. Belajar untuk move on itu gak cukup cuma sehari. Kata orang waktu yang diperlukan untuk move on adalah setengah dari masa hubungan itu sendiri. Tapi itu katanya. Kenyataannya kadang tak sesuai dengan hasil analisis mereka.

Satu yang membuat belajar move on itu sulit. MERELAKAN!! Move on hanya soal merelakan kenangan indah jadi masa lalu yang tak perlu disesali. Tapi jika merelakan semudah itu, maka tak akan tercipta lagu cinta yang menyakitkan. Merelakan bukanlah sifat alamiah manusia. Merelakan dan pasrah tak pernah jadi sifat alamiah ku. Belajar membiarkan dia pergi, belajar merelakan dia lebih dulu menemukan penggantiku. Belajar tersenyum dikala dia bahagia. Belajar berserah bahwa dia memang bukan untukku.

Move on itu butuh proses. Proses yang melibatkan logika dan hati. Proses yang tak cukup sehari. Proses yang cukup menguji kesabaran. Tapi cepat atau lambatnya proses itu berjalan tergantung dari hati yang siap pasrah atau tidak. Proses ini akan memberi hasil yang indah jika aku siap pindah.

Move on itu sulit jika memang pada dasarnya hati tak ingin pindah. Itu hal yang paling sulit jika dalam hati kecil masih bersikeras untuk menahan semua emosi yang tersimpan dalam. Cukup pasrahkan dan relakan kenangan indah itu. Semua akan terasa lebih mudah dan kenangan Itu akan jadi album terindah tanpa ada penyesalan dalam hidup.

Semangat Gie!!

Thursday, March 1, 2018

M. Fanani Gamestya Moerad (Part 2)

*part 2

Dan entah gimanalah ceritanya sampe dia meng-googling soal Advent. Dan dia bisa tau beberapa hal soal itu. Lalu di weekend berikutnya dia main ke puncak (lagi), gw dengan entengnya bilang "oleh-oleh yah". Yah dibawa syukur, gak dibawa juga gak apa apa sih. Hingga tiba-tiba dia nelp gw buat nanya makanan apa yang gak boleh makan (as an Adventis, yah). 

Karna gw lagi buru-buru mau ke acara, jadi gw gak terlalu memikirkan isi pembicaraan kami di telp. Tapi akhirnya malam itu gw berpikir-pikir kenapa dia nanya dan gw 50% yakin bahwa dia bakal bawa oleh-oleh buat gw. Yah, dia memang gak bilang sih, tapi gw yakin. Balik lagi sih, gw gak mau berekspek terlalu tinggi, jadi sampe oleh2 itu didepan mata gw, baru gw 100% yakin.

Yap, benar! Dia bawa oleh-oleh buat gw. Pie Susu talas! Bahagialah dibawain oleh-oleh spesial. Artinya gw ada dipikiran dia (read : di inget). Buat gw sebenarnya bukan soal objeknya, tapi soal momen yang tersirat dibalik objek itu. Kalo ada yang bilang kami kaya pacaran: iyaa, bisa jadi! Kembali lagi ke mindset gw bahwa ini gak bisa dibawa kemana-mana. Karna perbedaan yang cukup kritikal. Jadi gw akan menikmati semua ini tanpa berharap kami punya hubungan serius.

Lanjut pembicaraan kami soal dia bisa masak. Tercetuslah request gw untuk dimasakin nasi goreng yang awalnya di tolak mentah - mentah. Tapi buat gw, cowo itu bisa luluh kok ke cewe. Jadi gw berusaha untuk mendapatkan nasi goreng hand-made nya dia. Memang untuk mendapat sesuatu yang indah butuh pengorbanan dan waktu. Hadiah itu gak langsung gw dapat sehari atau seminggu setelah itu.

Banyak hal yang terjadi diantara kami, pembicaraan yang beragam, nemenin dia dijalan sampe rumah, tapi yang lebih gila adalah nemenin dia dimalam imlek. Telponan kami waktu itu menghabiskan waktu sekitar hampir 5jam. Ada kuota (internet dan telpon gratis gw) yang juga tersita banyak. Karna XL gw punya paket telpon gratis bulanan (40,000 untuk 120 menit untuk 1bulan), jatah sebulan gw habiskan untuk semalam. Saat itu adalah saat yang bikin gw balik ke logika yang sempat hilang. Saat itu kami ngobrolin soal : "Jangan ada rasa diantara kita". Yah, memang gak boleh ada rasa terlalu besar diantara kami. Takutnya nanti susah move-on.

Tapi karna kami masih intens ngobrol, yah rasa itu masih ada aja. Ini masih rasa suka yah. Belum terlalu jauh. Mungkin dia makin tersadar kalo ini gak boleh dilanjutkan terlalu jauh. Dia berusaha untuk mengakhir semuanya. Namun sebelum berakhir dia masih menyempatkan untuk ngasih nasi goreng hand-made nya ke gw sebagai hadiah ulang tahun. *bener kan gw bilang, cowo pasti luluh asal kita bertekun dan berdoa*

Dan beberapa hari setelah itu kami memutuskan untuk mengakhiri intensitas tersebut. Terlebih gw memutuskan untuk mengahiri rasa ini dengan baik. Bukan untuk jadi kenangan pahit, tapi jadi sesuatu yang indah . Tentang seseorang yang sempat jadi teman spesial gw. Dan ngasih hadiah terbaik tahun ini. Ngasih hal yang bikin tersenyum selama bulan Februari. Makasih yah Oni, untuk semuanya. Iyah gw mendramatisir semuanya, tapi itulah gw. Karna hidup itu terlalu singkat untuk dinikmati dengan monoton. You're my best in February 2018.

Okeh, seperti biasa gw mau menuliskan hal positif  tentang dia : 
  1. Baik
  2. Perhatian
  3. Peka
  4. Royal
  5. Gak suka ngeluh
  6. Suka bercanda even sometimes pun bisa juga serius
  7. Penyayang
  8. Setia
  9. Periang (kadang-kadang)
  10. Bertanggung jawab.
Itu ajalah, kalo kebanyakan nanti gak baik jadinya. :)

NB : ketika lo baca ini, percayalah gw bukan mau mencoba lagi, tapi gw hanya mindahin setiap rasa yang sempat tumbuh ke tulisan. Supaya kenangan ini bisa bikin gw tersenyum dimasa mendatang.

M. Fanani Gamestya Moerad

Happy 1st of March!

Hari ini dalam perjalanan menuju kantor, gw memutuskan untuk menulis sebuah kisah tentang seorang pria yang selama bulan Februari (bulan kelahiran gw, yang kata orang bulan cinta) menjadi "hot topic" dalam otak gw. Namanya seperti yang ada di judul dan cukup panjang untuk gw ketik lagi, tapi supaya afdol maka akan gw ketik *gak penting basa basi ini*. Namanya adalah M. Fanani Gamestya Moerad. Kenapa M nya gw singkat? Karna gw gak berani ngetiknya, takut salah ketik. Menurut gw nama itu cukup berat untuk gw tulis sembarangan. Jadi bisalah yah gw singkat saja.

Awal pertama gw kenal cowo ini sekitar bulan Januari awal, ketika gw lagi males banget untuk ngerjain kerjaan yang tengah deadline. Mungkin karna pada dasarnya gw orang yang kepo-an dan agresif maka gw dengan polosnya nanya siapa nama doi ke temen gw. Tersebutlah namanya : ONI. Sambil sedikit berpikir apa gw pernah berhubungan sama cowo ini atau enggak, karna kami sekantor dan yah kali aja tanpa sengaja dari sisi kerjaan kami pernah telponan (mungkin). Tapi short term memory gw kambuh. Lupa. Dan malam itu gw memutuskan ikut pulang bareng mereka.
 
Sekedar info : dia ini pulang ke Cikarang. Tiap hari bolak balik Cikarang - Jakarta. Pegel sih, iya. Tapi kalo kata dia "itu udah biasaa..". Karna dia naik mobil, jadi gw bisa nebeng sampe Cawang. Sepanjang jalan kami ngobrolin soal semua topik yang nyangkut di otak gw. Yah, kek gitulah gw! Tanpa mikir panjang, langsung aja meng-interogasi dia. Yah daripada bengong kan sepanjang jalan, awkward juga sih. Akhirnya gw sampe di tujuan gw, dan kami terpisah. 

Setelah itu gak banyak hal yang terjadi diantara kami. Hanya sekedar chat biasa, ngasih makanan, follow IG masing-masing and that's it. Sebatas temen kantor. Tapi menurut gw orangnya asyik. Kepikiranlah buat menjadikan dia ade-adean. Kenapa ade? Karna gak akan bisa dibawa lebih. Kata orang kami beda server. Jadi dari awal gw menepis semua hal-hal yang memicu untuk berharap lebih. Dan memang gw pengen banget punya ade cowo. PENGEN BANGET!

Sampe kemudian kantor gw bikin acara ke puncak. Yah, sejenis employee gathering. *memang employee gathering che!* Yah, entah apalah namanya. Berhubung acara ini diadakan Sabtu - Minggu, maka gw gak bisa hadir sebenarnya. Tapi karna 1 hal, gw memutuskan untuk datang di malam minggu. Jadi habis rapat majelis, gw naik ke puncak bareng sama orang kantor yang juga berangkat malam. 

Setelah 1,5 jam perjalanan tibalah gw disana dan disambut dengan acara yang lagi hening dan mulailah meng-instastory-kan moment kesampean gw itu. Dan doi komen yang intinya kami bakal meet-up dulu. Padahal sebenarnya tanpa janjianpun, pasti bakal ketemu! Iyah gak sih?. Setelah acara keheningan itu, maka sesi kambing guling pun tiba (re:acara bebas). Pas diacara bebas inilah akhirnya kami ketemu dan ngobrol, kemudian gw diajak ikut main sama temen-temen nya yang sebenernya gw gak deket banget karna beda divisi. Tapi paling enggak ada beberapa yang gw kenal. Jadi gak begitu canggung lah. 

Lama kami main, malam makin larut dan ada satu hal yang lupa dan baru gw sadar. Gw masih pake baju gereja which is itu lagi di puncak dan jaket gw di tas. Dan tas gw ada di mobil orang kantor gw tadi dan dia lagi pergi makan sama BOD. Tapi yasudahlah yah, karna suasana masih hangat jadi tak terlalu berasa. Kalo diingetin sebenernya dingin. Tiba-tiba cowo ini ngomong : "Gak kedinginan mba?" "Enggak... Yah, dingin sih.." (karna diingetin jadi berasa dinginnya! Udah bisa belum ngelesnya). Dan dia ngasih jaket dia ke gw. Yah, gak ada niat buat baper. Tapi namanya cewe, dibaikin dikit kan baper. Baper gak sama dengan jatuh cinta yah. Tapi baper bisa bikin jatuh cinta. Saat itu yang rasakan adalah kenapa dia baik ke gw. Gak ada alasan khusus sebenarnya untuk dia minjemin jaket itu. Yah, tapi bisa aja pada dasarnya dia baik kesemua orang.  Tapi paling gak, malam itu kami habiskan bareng *ini bukan kearah negatip yakh* bareng2 menghabiskan malam ditempat masing-masing. 

Dan lucunya setelah dari puncak itu kami makin deket, dari sekedar berbagi foto pas acara kemarennya, sampe tiba-tiba dia nelpon gw pake simpati. Iyah, pake SIMPATI ke XL. Alasan dia udah bikin paket. Gw sih percaya aja yah, tapi ketika sejam berlalu, gw pastiin lagi pulsanya masih ada atau enggak. Yah, gw turut bertanggung jawablah kalo pulsanya habis. Kenapa? Karna gw gak suka merepotkan atau bikin orang lain punya pengorbanan buat gw. Gw gak mau punya utang budi sama orang lain. Dan ternyata pulsanya kepotong. Serius, disini gw langsung gak enak banget rasanya. Harusnya waktu itu gw isi aja pulsa dia kan. Diam - diam. Tapi gak jadi. Gw yakin dia pasti tau kalo gw isi, yah takut aja harga dirinya jadi ke senggol gara-gara itu. Jadi gw urungkan niat itu.

Setelah dari itu intensitas chat kami bertambah, yah gw yakin disini udah terjadi hal yang gak biasa. Entah siapa yang mulai, tapi gw yakin rasa itu mulai tumbuh. Gw jadi punya pengalih dari rasa belum move-on gw. Setidaknya ada hal lain yang gw pikirkan selain mantan yang gak akan bisa jadi itu. Jadi ini bikin gw seneng, dan gw punya temen pulang bareng saat lembur.  Seminggu setelah puncak adalah minggu yang kami habiskan buat chat dan telp. Kata orang bisa karna biasa. Dan perasaan senang itu makin bertumbuh. Yah, gw bisa bilang gw suka sama cowo ini. Tapi, gw memang gampang suka sama orang ketika dia bisa memberikan rasa nyaman waktu bareng dia. Karna kebiasaan kami menghabiskan waktu bareng. 

*to be continued

Sunday, February 25, 2018

Happy Birthday Gie

Hari ulang tahun sebenarnya jadi hari yang cukup bikin gw trauma. Karna banyak kisah airmata di hari ulang tahun gw tiap tahunnya. Karna itu gw selalu menghindari hari ulang tahun dengan mereka. Iya, mereka. Keluarga gw sendiri.

Mengingat hari ulang tahun yang dulu terjadi. Ketika yang gw harap adalah kebahagiaan, tapi yang gw terima adalah sakit hati. Ketika gw berharap tawa dan yang gw terima adalah air mata. Rasanya gak mau lagi ngulang hal kaya gitu.

Bisa aja kalian bilang itu hanyalah masa lalu. Tapi sakitnya masih sampai hari ini. Trauma karna masa lalu. Gw lebih milih untuk ngerayain sendiri, daripada harus ngerayain bareng mereka. Iyah, kalian bisa bilang gw belum. Move on. Tapi itu lah yang terjadi.

Itu juga sebabnya gw selalu memilih untuk pergi keluar kota ketika ulang tahun. Supaya gw punya alasan untuk gak bareng mereka. Iyah, gw menghindari masalah. Di hari ulang tahun gw, gw cuma pengen didoakan. Gw gak butuh banget sama kado. Kado itu hanya bonus. Gw cuma berharap didoakan. Dan itulah yang dulu gw gak dapat. Makanya rasa sakit itu sangat amat sakit.

Sejak 2011 gw selalu nangis ketika ulang tahun. Ada aja sih masalahnya. Cemburu, sakit hati, kecewa. Yah, itulah dia. Maka gw memilih untum tidak bersama mereka. Itu cukup menyakitkan.

Tapi setidaknya hari ini ada dua pendeta yang mendoakan. Bukankah itu cukup spesial? Jadi setidaknya ada hal yang selalu gw harap, dan itu tercapai hari ini.

Masih ada hal yang gw syukuri hari ini.

Yap, Happy Birthday Gie..
I wish my self a happy life, a cheerful smile, and a blessed year..